Audit website e-commerce sering terdengar seperti pekerjaan untuk engineer: ribet, penuh kode, dan membutuhkan skill teknis tingkat dewa. Padahal, sebagai pemilik toko online atau digital marketer, Anda tahu betul bahwa masalah teknis—mulai dari produk duplicate, link mati, hingga struktur URL berantakan—langsung bikin konversi jeblok. Screaming Frog adalah jawabannya. Tools ini memindahkan kekuatan audit teknis dari tangan developer ke meja marketer, tanpa mengharuskan Anda menulis satu baris kode pun.

Kenapa E-commerce Jauh Lebih Rumit dari Website Biasa

Website e-commerce bukan sekadar kumpulan halaman. Ratusan kategori, ribuan produk, filter warna-ukuran-harga, dan parameter URL yang bermultiplikasi seperti jamur di musim hujan. Satu kesalahan konfigurasi bisa bikin Google nge-crawl 50 versi halaman yang sama. Hasilnya? Crawl budget habis, ranking turun, dan pelanggan nyasar.

Bayangkan ada 1.200 produk sepatu, tapi muncul 18.000 URL karena filter ukuran dan warna yang tidak terkontrol. Tanpa tools, Anda butuh hari untuk cek manual. Dengan Screaming Frog? Selesai dalam 30 menit, lengkap dengan visual tree yang langsung tunjukkan di mana lubang hitamnya.

Screaming Frog: Crawler yang Berbicara Bahasa Marketer

Kebanyakan crawler menampilkan data mentah dalam spreadsheet membosankan. Screaming Frog beda. Interface-nya visual, filter-based, dan berbicara dalam istilah bisnis, bukan teknis. Anda tidak perlu tahu apa itu regex untuk menemukan duplicate content. Cukup klik filter “Near Duplicates” dan tentukan similarity threshold 90%. Done.

4 Fitur “No-Code” yang Langsung Bisa Dipakai

  • Custom Extraction via Point-and-Click: Ambil data harga, stok, atau review rating tanpa XPath. Cukup klik elemen di halaman, dan tools akan generate selector-nya otomatis.
  • Crawl Configuration Pre-set: Pilih “E-commerce” dari template, dan semua setting—ignore parameter, crawl depth, user-agent—langsung optimal untuk toko online.
  • Visual Charts & Tree Graph: Lihat struktur website seperti peta. Node merah besar? Itu halaman dengan terlalu banyak outgoing links. Fix itu dulu.
  • Integration One-Click: Hubungkan ke Google Analytics dan Search Console dalam 3 klik. Data traffic dan impression langsung muncul di samping data teknis.

Setup 15 Menit: Audit Pertama Tanpa Pusing

Mari kita praktik. Anda baru install versi free (max 500 URL) atau sudah beli license (£149/tahun, seharga 2 bulan tool SEO premium). Langsung saja begini caranya.

  1. Input URL Homepage: Copy-paste URL toko Anda di kolom utama. Jangan lupa ubah mode dari “Spider” ke “List” kalau mau crawl sitemap XML saja.
  2. Pilih Pre-set E-commerce: Di menu Configuration > Crawl, pilih template “E-commerce Standard”. Ini otomatis mengabaikan parameter seperti ?sort=price&order=desc yang bikin duplicate.
  3. Aktifkan JavaScript Rendering: Ceklis “Enable JavaScript”. E-commerce modern pakai React atau Vue. Tanpa ini, Anda cuma crawl kerangka kosong.
  4. Start Crawl & Minum Kopi: Klik “Start”. Untuk website 2.000-3.000 halaman, biasanya selesai dalam 15-20 menit. Sambil tunggu, cek tab “Overview” untuk live update.

Pro tip: Jangan crawl sajam jam sibuk (9-11 pagi). Server Anda ngos-ngosan, hasilnya bisa nggak akurat. Malam hari adalah saat terbaik.

5 Temuan Kritis yang Bisa Langsung Di-export ke Developer

Setelah crawl selesai, Anda punya data mentah. Tapi data tanpa prioritas itu sampah. Ini adalah 5 temukan yang paling sering muncul di e-commerce dan langsung bisa di-action, lengkap dengan cara export-nya dalam bahasa developer-friendly.

Baca:  Google Trends Vs Google Keyword Planner: Kapan Harus Menggunakan Keduanya?

1. Faceted Navigation Menghasilkan Ribuan Duplicate Pages

Di tab “URL”, filter “Parameters”. Anda akan lihat URL seperti /sepatu-pria?color=merah&size=42&brand=nike&sort=price. Kalau jumlahnya >50% dari total URL, Anda punya masalah crawl budget.

Export: Tab Bulk Export > All URLs with Parameters. File CSV ini langsung bisa di-share ke developer untuk implement canonical tag atau noindex tag secara massal.

2. Product Pages dengan Title Tag Duplikat

Pergi ke tab “Page Titles”, filter “Duplicate”. E-commerce sering pakai template “Beli [Nama Produk] di [Nama Toko]” tanpa variasi. Google bingung mana yang harus di-rank.

Export: Tab Reports > Duplicate Page Titles. Dapatkan daftar lengkap beserta URL-nya. Kasih ke tim konten untuk rewrite manual atau ke developer untuk inject variasi (misal: tambahkan SKU atau model).

Tab “Response Codes”, filter “Client Error (4xx)”. Tapi ini belum cukup. Sekarang gunakan “Inlinks” tab untuk cek broken link itu muncul di halaman mana. Kalau ada di /checkout/payment, Anda baru saja kehilangan penjualan.

Data: Rata-rata e-commerce dengan 5.000 produk punya 80-150 broken links. Yang ada di funnel conversion? Biasanya 3-5 saja, tapi impact-nya massive.

4. Missing Structured Data (Product/Review/Breadcrumb)

Tab “Structured Data”. Filter “Missing”. Anda akan lihat berapa banyak produk tanpa markup. Tanpa ini, rich snippet bintang rating tidak muncul di SERP, click-rate drop 15-30%.

Export: Custom Filter > Schema.org Type = “Product” AND Errors > 0. Ini list produk yang perlu diperbaiki markup-nya. Developer tinggal copy-paste template JSON-LD yang sudah bener.

5. Page Depth > 5 Klik dari Homepage = Tidak Terindex

Tab “Site Structure”, lihat “Crawl Depth”. Produk yang butuh >5 klik untuk diakses dari homepage punya probabilitas index 50% lebih rendah. Biasanya ini produk lama yang tenggelam di halaman 47 paginasi.

Action: Export list ini, lalu buat internal linking campaign dari blog atau homepage section “Produk Terlaris” untuk tarik mereka naik ke depth 2-3.

Baca:  Review Ubersuggest Lifetime: Apakah Masih Akurat Untuk Riset Keyword Bahasa Indonesia?

Template Audit E-commerce 1 Jam (Tanpa Coding)

Anda tidak perlu jadi ahli. Ikuti checklist ini setiap bulan, dan Anda sudah lebih baik dari 70% kompetitor.

  1. Crawl Overview (10 menit): Lihat total URL vs indexed URL di GSC. Jika gap >30%, ada masalah crawling.
  2. Parameter Audit (15 menit): Export semua URL dengan parameter. Hitung jumlahnya. Kalau >1.000, rapatkan dengan tim dev untuk parameter handling.
  3. Content Quality Scan (10 menit): Tab “Content”, filter “Low Content Pages” (<200 kata). Ini biasanya kategori kosong. Noindex atau isi konten.
  4. Internal Linking Health (10 menit): Tab “Links”, lihat “Orphan Pages”. Halaman tanpa internal link = tidak pernah dilihat Google.
  5. Mobile UX Check (15 menit): Tab “PageSpeed”. Filter “Mobile Score <60”. E-commerce mobile conversion sangat sensitif dengan speed. Prioritaskan fix top 20 halaman ini.

Batasan yang Jujur (Bukan Basa-Basi)

Screaming Frog bukan magic wand. Ada batasan keras yang perlu Anda pahami sebelum invest waktu.

1. Tidak Bisa Crawl Dinamika Tanpa Setup: Kalau website Anda pakai heavy AJAX atau infinite scroll tanpa pagination, crawler bisa stuck. Butuh bantuan developer untuk sediakan static sitemap.

2. Data Hanya Sebagian dari Puzzle: SF memberi data teknis, tapi tidak analisis bisnis. Anda masih butuh GA untuk lihat revenue per halaman, atau heatmap untuk UX. Jangan jadi “data rich, insight poor”.

3. Versi Free Terbatas: 500 URL mungkin cukup untuk toko kecil, tapi e-commerce rata-rata punya 3.000-10.000 URL. License £149/tahun adalah harga wajar, tapi kalau budget ketat, prioritaskan dulu 3 bulan untuk bersih-bersih, lalu stop.

Warning: Jangan pernah share file crawl mentah yang berisi data pelanggan (misal: URL dengan email di parameter) ke tim eksternal. SF log semua URL, termasuk yang sensitif. Clean dulu.

ROI untuk Pemilik Toko: Hitung Sendiri

Menggunakan Screaming Frog adalah investasi waktu, bukan cuma uang. Tapi hitungannya jelas.

Bayangkan Anda menemukan 3 broken link di halaman checkout. Fix memakan waktu 2 jam developer (Rp 500.000). Jika conversion rate Anda 2% dan rata-rata order Rp 500.000, cukup 5 pelanggan yang tidak bounce karena error, Anda sudah ROI dalam sebulan.

Atau temukan 500 halaman kategori dengan title tag duplikat. Rewrite massal menggunakan template meningkatkan CTR 0.5%. Untuk website dengan 50.000 impression/bulan, itu 250 klik ekstra. Dengan CPC rata-rata Rp 2.000, Anda “hemat” Rp 500.000/bulan iklan.

Skenario TemuanEstimasi Impact KonversiBiaya Fix (Tim Internal)Break-even Time
Broken link di funnel checkout+1.5% conversion rateRp 500.0001-2 minggu
Duplicate content (faceted nav)+20% crawl efficiencyRp 1.500.0001-2 bulan
Missing structured data (10% produk)+15% CTR di SERPRp 750.0003-4 minggu

Kesimpulan: Alat yang Membuat Anda Dangerous (Dalam Arti Baik)

Screaming Frog tidak menggantikan developer atau SEO specialist berpengalaman. Tapi tools ini membuat Anda—sebagai pemilik bisnis atau marketer—dangerously informed. Anda datang ke meja developer bukan dengan “ada yang error, fix dong”, tapi dengan “ada 127 URL dengan parameter color yang bikin duplicate, ini file CSV-nya, tolong tambahkan canonical ke parent category”.

Dengan setup 15 menit dan template audit 1 jam bulanan, Anda bisa menjaga kesehatan teknis website tanpa menunggu agency yang charge Rp 10 juta per audit. License £149/tahun itu murah dibanding opportunity cost hilangnya penjualan karena masalah teknis yang tidak terdeteksi.

Jangan beli karena iklan. Beli karena Anda sudah hitung sendiri berapa banyak uang yang terbuang karena website tidak optimal. Screaming Frog hanya mempercepat Anda melihat apa yang sebenarnya sudah seharusnya Anda lihat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Semrush Vs Ahrefs: Mana Yang Lebih Worth It Untuk Blogger Pemula Di 2025?

Blogger pemula di 2025 dihadapkan pada dilema klasik: Semrush atau Ahrefs? Budget…

Google Trends Vs Google Keyword Planner: Kapan Harus Menggunakan Keduanya?

Sebagai digital marketer, kamu pasti pernah stuck di tengah keyword research: punya…

Review Google Analytics 4 (Ga4) Untuk Pemula: Cara Baca Data Traffic Tanpa Pusing

GA4 terasa seperti piloting pesawat tanpa manual. Dashboardnya penuh angka, grafiknya asing,…

Review Ubersuggest Lifetime: Apakah Masih Akurat Untuk Riset Keyword Bahasa Indonesia?

Ketika Neil Patel mengumumkan lifetime deal Ubersuggest di 2019, banyak digital marketer…