Mengelola 5–8 akun media sosial secara manual setiap hari itu seperti bermain pingpong sendiri: lelah, chaotic, dan pasti ada bola yang terlewat. Kalau kamu pernah lupa posting konten klien atau ketinggalan mention penting di tengah rapat, kamu tahu betul rasa frustasinya. Dua nama besar sering muncul sebagai juru selamat: Hootsuite dan Buffer. Tapi pertanyaannya, mana yang benar-benar worth it untuk konteks multi-account management tanpa bikin dompet jebol?

Latar Belakang Masalah: Kenapa Tools Multi-Account Bukan Lagi “Nice-to-Have”
Data dari Social Media Today menyebutkan bahwa marketer rata-rata menghabiskan 15,5 jam per minggu hanya untuk aktivitas posting dan engagement manual. Bayangkan kalau kamu punya 10 klien, masing-masing ada di Instagram, Facebook, LinkedIn, dan TikTok. Itu 40 akun yang harus di-check satu per satu.
Tanpa tools, risiko human error meningkat 3x. Konten salah jadwal, caption typo yang tidak terdeteksi, atau report mingguan yang amburadul bisa merusak reputasi profesionalmu. Tools seperti Hootsuite dan Buffer hadir bukan cuma untuk mempermudah, tapi untuk damage control dan skalabilitas.
Hootsuite vs Buffer: Dua Filosofi Berbeda
Hootsuite itu seperti Swiss Army Knife: banyak fungsi, canggih, tapi butuh waktu untuk menguasainya. Buffer? Lebih seperti pisah chef premium: gesit, fokus pada satu tugas utama, dan user experience yang bikin nyaman.
Pembeda paling fundamental: Hootsuite ingin jadi command center untuk semua aktivitas sosmed, sementara Buffer fokus jadi yang terbaik di scheduling dan publishing. Pilihanmu akan bergantung pada mana yang lebih sering kamu lakukan: listening & responding atau planning & publishing.
Perbandingan Fitur: Mana yang Beneran Digunakan?
1. Scheduling & Publishing
Buffer unggul di sini. Queue system-nya intuitif: taruh konten, atur jadwal sekali, dan Buffer otomatis posting sesuai slot waktu yang sudah di-set. Fitur “best time to post” di Buffer Premium sangat akurat karena machine learning-nya sudah terlatih dari jutaan data posting.
Hootsuite juga punya bulk scheduling, tapi prosesnya lebih rumit: harus upload CSV, mapping field, dan kadang ada bug di parsing gambar. Kelebihannya, Hootsuite bisa auto-post dari RSS feed dan punya content library untuk asset management. Kalau kamu punya blog yang update setiap hari, fitur ini menghemat 30 menit per hari.
Untuk Instagram Stories, keduanya masih terbatas. Hootsuite hanya bisa schedule reminder, Buffer sama sekali tidak support. Ini fakta yang jarang di-highlight di homepage mereka.
2. Social Listening & Engagement
Ini medan perang Hootsuite. Streams feature-nya memungkinkan kamu monitor mention, keyword, hashtag, bahun komentar di Facebook Page, semua dalam satu dashboard. Kamu bisa buat kolom khusus untuk “complaint” atau “sales lead” dan assign ke anggota tim.
Buffer? Hanya ada Buffer Reply yang terpisah dan hanya tersedia di plan Premium. Fiturnya basic: balas komentar dan mention. Tidak ada keyword monitoring. Kalau kamu agency yang harus laporkan sentiment analysis ke klien, Buffer akan terasa kurang.

3. Analytics & Reporting
Buffer Analytics cukup untuk small team. Data reach, engagement rate, top post tersaji clean. Tapi tidak ada custom report. Kamu tidak bisa export PDF dengan logo klien di plan Pro. Harus upgrade ke Premium ($65/mo).
Hootsuite Analytics lebih depth: track follower growth, traffic referral dari Google Analytics, bahkan competitor benchmarking. Plan Professional ($99/mo) sudah include 1 custom report template. Kalau butuh lebih, addon bisa sampai $50 per report suite.
4. Kolaborasi Tim
Buffer baru serius di kolaborasi di plan Premium. Approval workflow-nya linear: konten creator submit, approver approve. Tidak ada tiered permission (admin, editor, viewer) seperti Hootsuite.
Hootsuite punya team permission levels yang granular. Kamu bisa set anak magang hanya bisa draft, manager bisa approve, dan client bisa view-only. Ini sangat berguna untuk agency dengan hierarki kerja yang jelas.
Analisis Harga: Kalkulasi Nyata untuk Banyak Akun
Mari kita hitung untuk skenario: kamu agency dengan 15 akun aktif (5 klien, masing-masing 3 platform).
Buffer: Plan Pro hanya support 8 akun. Jadi kamu butuh 2 akun Pro = $30/mo. Tapi ini tidak termasuk fitur tim. Untuk approval workflow, harus Premium $65/mo (maks 8 akun). Akhirnya butuh 2 Premium = $130/mo. Mahal karena bayar per akun, bukan per user.
Hootsuite: Plan Team support 20 akun dengan 3 users = $249/mo. Tambah user ke-4? $99/user/mo. Tapi kamu sudah dapat semua fitur: listening, analytics, team workflow. Tidak perlu addon kecuali butuh report super custom.
Untuk skala besar, Hootsuite lebih hemat karena pricing per user, bukan per akun. Buffer justru mahal kalau akunmu banyak tapi user sedikit.
Warning: Buffer Free terlihat menggiurkan (3 akun, 10 scheduled posts), tapi limit 10 postingan itu bikin kamu harus schedule hampir setiap hari. Untuk 15 akun, ini tidak viable.
Perbandingan Spesifikasi Lengkap
| Parameter | Buffer Pro ($15/mo) | Buffer Premium ($65/mo) | Hootsuite Professional ($99/mo) | Hootsuite Team ($249/mo) |
|---|---|---|---|---|
| Jumlah Akun | 8 | 8 | 10 | 20 |
| Scheduled Posts | 100 per akun | 2,000 per akun | Unlimited | Unlimited |
| Social Listening | Tidak Ada | Basic (Reply only) | Full Streams | Full Streams |
| Custom Report | Tidak Ada | Export CSV saja | 1 Template PDF | 5 Templates PDF |
| Approval Workflow | Tidak Ada | Linear (1 approver) | Multi-level | Multi-level |
| Best For | Solopreneur | Small Team (2-3 orang) | Mid-size Agency | Large Agency/Brand |
Use Case: Kapan Pilih Hootsuite, Kapan Pilih Buffer
Pilih Buffer kalau:
- Kamu freelancer atau agency kecil (<5 akun klien)
- Prioritas utama adalah scheduling cepat, bukan monitoring
- Budget sangat terbatas dan butuh ROI cepat
- Klien tidak minta report kompleks dengan logo custom
Pilih Hootsuite kalau:
- Kamu punya tim >3 orang dengan role berbeda
- Butuh monitor brand mention dan sentiment secara real-time
- Klien enterprise yang butuh report PDF mingguan dengan branding
- Mengelola >15 akun dan ingin konsolidasi di satu dashboard
Contoh konkret: Agency kreatif yang fokus konten visual (foto, Reels) akan lebih produktif di Buffer. Sementara agency PR yang harus handle crisis communication butuh Hootsuite untuk tracking mention di detik pertama.
Catatan Penting: Limitasi yang Tidak Ditulis di Homepage
Buffer punya limitasi teknis: tidak support posting Instagram Carousel secara otomatis. Kamu harus posting manual via mobile app. Ini deal-breaker untuk brand fashion atau F&B yang kerjaannya pamer produk.
Hootsuite punya masalah performa: dashboard bisa lambat kalau kamu punya >20 streams aktif. Beberapa user melaporkan lagging saat switching antara akun. Plus, mobile app-nya jauh lebih tidak intuitif dibandingkan web version.
Kedua tools tidak support TikTok scheduling secara native. Hootsuite baru integrasi lewat beta, Buffer masih mengandalkan reminder. Kalau TikTok adalah channel utama, pertimbangkan Later atau Metricool.
Kesimpulan Inti: Buffer menang di UX dan harga untuk skala kecil. Hootsuite menang di power dan skalabilitas untuk operasi besar. Tidak ada yang “lebih baik” secara absolut—hanya yang lebih cocok dengan job description harianmu.
Rekomendasi Final: Hitung Dulu, Baru Pilih
Sebelum swipe kartu, jawab tiga pertanyaan ini:
- Berapa total akun yang aktif per bulan? Kalau <10, Buffer. Kalau >15, Hootsuite.
- Apakah timmu butuh approval workflow? Kalau iya, Hootsuite Team lebih murah daripada Buffer Premium ganda.
- Seberapa sering kamu butuh custom report? Kalau >2 kali sebulan, Hootsuite lebih worth it.
Dan satu saran terakhir: manfaatkan trial 30 hari keduanya. Jangan cuma tes fitur, tapi simulasi workflow nyata selama 1 minggu. Kadang “feel” di tangan lebih penting daripada feature list di spreadsheet. Tools yang bagus tapi tidak kamu suka pakai akhirnya akan jadi wasted investment.




