Tagihan bulanan GetResponse saya tiba tepat waktu, tapi kali ini saya berhenti sejenak. Bukan karena gangguan teknis, tapi karena angka di layar: Rp 2,8 juta untuk 45.000 subscriber. Sebagai digital marketer yang mengelola beberapa akun klien, setiap rupiah harus berbicara hasil. Itulah titik awal saya menjelajahi MailerLite, dan apa yang saya temukan bukan sekadar penghematan biaya—tapi realokasi anggaran yang lebih cerdas.
Kenapa Saya Mulai Mempertanyakan GetResponse
GetResponse memang bukan tool buruk. Justru sebaliknya, fitur automation-nya cukup powerful dan landing page builder-nya lumayan fleksibel. Masalahnya: saya hanya menggunakan sekitar 30% dari semua fitur premium yang dibayar.
List subscriber terus tumbuh, tapi conversion rate stagnan. Saya terjebak dalam siklus: lebih banyak kontak = lebih mahal biaya, tanpa ROI yang proporsional. That’s when the math stopped making sense.
Bulan September 2023, saya melakukan audit mendalam. Hasilnya mengejutkan: 60% fitur automation kompleks tidak pernah tersentuh, email webinar hanya dipakai dua kali setahun, dan fungsi webinar live sama sekali tidak terpakai karena saya lebih sering menggunakan Zoom standalone.

Pertemuan Pertama dengan MailerLite: Skeptis tapi Terbuka
Awalnya, saya menganggap MailerLite sebagai “budget tool” untuk pemula. Nama-nya saja terdengar light. Tapi rekomendasi dari peer di komunitas digital marketing akhirnya membuat saya coba free plan-nya.
Antarmuka MailerLite bersih, minimalis, dan—pentingnya—loading-nya cepat. Builder email-nya terasa lebih intuitif dibandingkan GetResponse versi terbaru yang menurut saya terlalu ramai. Automation workflow-nya sederhana tapi tidak sederhana sekali: justru itu yang saya butuhkan.
Fitur Kritis yang Saya Cek Point by Point
- Automation Builder: Tidak visual sekompleks GetResponse, tapi semua trigger dan condition yang saya pakai tersedia.
- Segmentasi: Bisa segmentasi berdasarkan behaviour, location, dan custom fields—cukup untuk 90% kebutuhan saya.
- Integrasi: Zapier, WooCommerce, dan Typeform ada semua. Tidak ada dealbreaker.
- Deliverability: Ini yang paling bikin was-was. Tapi setelah cek forum dan tanya beberapa pengguna, reputasinya solid.
Perbandingan Biaya: Angka yang Bikin Terdiam
Ini bagian terpenting dari studi kasus ini. Biaya bukan sekadar harga, tapi value per subscriber. Saya buat tabel perbandingan berdasarkan tier subscriber aktif saya.
| Jumlah Subscriber | GetResponse (Plan Professional) | MailerLite (Plan Growing Business) | Selisiih Bulanan | Selisiih Tahunan |
|---|---|---|---|---|
| 10,000 | Rp 1.050.000 | Rp 450.000 | Rp 600.000 | Rp 7.200.000 |
| 25,000 | Rp 1.750.000 | Rp 900.000 | Rp 850.000 | Rp 10.200.000 |
| 45,000 (tier saya) | Rp 2.800.000 | Rp 1.350.000 | Rp 1.450.000 | Rp 17.400.000 |
| 75,000 | Rp 4.200.000 | Rp 1.800.000 | Rp 2.400.000 | Rp 28.800.000 |
Angka di tabel tersebut belum termasuk diskon tahunan. Dengan pembayaran tahunan, MailerLite memberikan diskon 15% sementara GetResponse sekitar 18%—tapi karena base price-nya jauh lebih tinggi, selisih tetap signifikan.
Penghematan tahunan saya: Rp 17.400.000. Uang tersebut saya realokasikan untuk budget iklan Facebook Ads, yang menghasilkan tambahan 1.200 subscriber berkualitas dalam 3 bulan pertama.
Proses Migrasi: Lebih Mudah dari Dugaan
Bagian paling menakutkan dari switch platform adalah migrasi data. Bayangkan hilangnya ribuan subscriber data atau rusaknya automation sequence yang sudah running. Tapi ternyata prosesnya lebih smooth dari perkiraan.
Langkah-langkah Nyata yang Saya Lakukan
- Audit dan Pembersihan: Sebelum export, saya hapus 8.000 subscriber inaktif (tidak buka email 6 bulan terakhir). Ini turunkan biaya dan improve deliverability.
- Export Segmentasi: Export dari GetResponse per segment, bukan satu file besar. Ini memudahkan mapping di MailerLite.
- Setup Dasar di MailerLite: Buat custom fields yang sama, re-create segmentasi, dan setup automation sederhana untuk testing.
- Test Send: Kirim email test ke 100 subscriber paling engaged. Monitor open rate dan click rate.
- Switch DNS dan Warm-up: Setup DKIM dan SPF di MailerLite, lalu mulai warm-up IP dengan mengirim ke engaged subscriber dulu selama 2 minggu.
Total waktu yang dibutuhkan: sekitar 6 jam kerja efektif, tersebar selama 1 minggu. Tidak ada data subscriber yang hilang. Satu-satunya masalah kecil: beberapa link lama di email sequence harus diperbarui manual.

6 Bulan Pasca-Migrasi: Hasil Nyata
Setengah tahun sudah berlalu sejak switch. Ini bukan sekadar teori, tapi data dari analytics saya.
Open Rate: Stabil di 28-32%, tidak ada penurunan signifikan. Bahkan di minggu pertama warm-up, open rate sempat naik ke 35% karena list lebih bersih.
Click Rate: Rata-rata 4,2%, sedikit lebih tinggi dari periode GetResponse yang sekitar 3,8%. Kemungkinan besar karena template email di MailerLite lebih ringan dan loading cepat.
Deliverability: Tidak ada masalah besar. Spam rate di bawah 0,1%. Satu kali ada masalah di Gmail Promo tab, tapi setelah optimize subject line dan content, kembali normal.
Automation Performance: Workflow welcome series dan abandoned cart tetap konversi dengan baik. Malahan, builder MailerLite yang lebih sederhana bikin saya lebih fokus pada logika alur, bukan tampilan visual.
Trade-off yang Harus Diterima
Tidak semuanya sempurna. Ada beberapa kompromi yang perlu diakui:
- Webinar Feature: Tidak ada. Saya tetap pakar Zoom + integration.
- Template Library: Lebih terbatas dibandingkan GetResponse. Tapi template yang ada cukup modern dan customizablenya tinggi.
- Advanced Automation: Kalau butuh scoring lead atau branching super kompleks, MailerLite masih kalah. Untuk use case saya, sederhana = lebih baik.
- Reporting Depth: Dashboard GetResponse lebih detail, tapi report MailerLite sudah cukup untuk keputusan bisnis.
Untuk Siapa Switch Ini Direkomendasikan
Setelah 6 bulan, saya bisa kasih rekomendasi yang tajam, bukan generalisasi.
Pindah ke MailerLite Jika:
- List Anda 5.000-100.000 subscriber dan growth rate stabil.
- Fitur automation Anda pakai standar: welcome series, abandoned cart, tagging.
- Anda mengandalkan email sebagai channel utama, bukan webinar.
- Tim Anda kecil (1-5 orang) dan butuh tool yang langsung bisa dipakai tanpa training intensif.
Tetap di GetResponse Jika:
- List di atas 100.000 dengan automation super kompleks (multi-branch, scoring).
- Webinar adalah core product Anda dan butuh native integration.
- Butuh fitur CRM terintegrasi dalam satu platform.
- Budget bukan masalah dan Anda mau “best in class” feature set.
Tips Eksekusi Pindah Platform Tanpa Stress
Bagi yang tertarik, ini checklist praktis berdasarkan pengalaman pahit manis saya:
- Jangan lakukan migrasi di peak season. Pilih bulan biasa, jangan saat Black Friday atau product launch besar.
- Pakai trial period untuk rebuild satu automation paling kritis. Test end-to-end sebelum commit penuh.
- Backup semua data GetResponse. Export subscriber, email template HTML, dan automation workflow screenshot.
- Komunikasikan ke subscriber. Kirim email transparan: “Kami upgrade sistem email untuk pengalaman lebih baik.” Ini meningkatkan engagement dan reduce spam complaint.
- Monitor 30 hari pertama seperti elang. Cek deliverability daily, buka support ticket jika ada yang aneh. Support MailerLite responsif dalam 2-4 jam.
Kesimpulan: Ini Bukan Soal Murah, Tapi Soal Efisiensi
Pindah dari GetResponse ke MailerLite bukan downgrade. Ini adalah strategic reallocation dari budget yang tidak efisien ke channel yang lebih produktif. Saya masih menghormati GetResponse sebagai tool powerful, tapi power tanpa penggunaan adalah pemborosan.
Dengan penghematan Rp 17,4 juta per tahun, saya bisa tambah budget iklan, hire freelancer untuk content, atau sekadar naikkan profit margin. Semua itu tanpa mengorbankan performance email marketing yang menjadi darah nadi bisnis.
Jadi, jika Anda melihat tagihan email marketing dan merasakan “ini terlalu mahal untuk value yang saya dapat,” mungkin sudah waktunya untuk audit. MailerLite bukan satu-satunya alternatif, tapi untuk kasus saya, itu adalah keputusan terbaik dalam 2 tahun terakhir.
Pertanyaan bukan “apakah tool ini canggih?” tapi “apakah saya benar-benar butuh semua kecanggihan itu?” Jawabannya bisa menghemat puluhan juta per tahun.




