Kecepatan loading bukan sekadar angka di GTmetrix untuk website berita. Setiap detik delay berarti ribuan pembaca kabur, ranking Google turun, dan iklan yang tak tampil. Pilih hosting salah, traffic tinggi justru jadi bencana. Dua nama besar di Indonesia—Niagahoster dan Domainesia—sering jadi pertimbangan utama. Tapi mana yang benar-benar cepat di lapangan untuk skema arsitektur website berita? Kita bedah hasil uji langsung.
Mengapa Kecepatan Jadi Nyawa Kedua Website Berita
Website berita punya DNA unik: update tiap jam, puluhan gambar per halaman, traffic melonjak saat ada breaking news, dan pembaca yang tidak sabaran. Google Core Web Vitals makin ketat, Largest Contentful Paint (LCP) harus di bawah 2.5 detik atau ranking terancam.

Bayangkan saat ada berita viral. Server Anda harus melayani ribuan request per detik. Kalau Time to First Byte (TTFB) di atas 500ms, maka semua metrik di atasnya hancur. Bounce rate bisa tembus 70% dan RPM ads ikut terjun bebas. Ini bukan teori—data dari Think with Google menunjukkan 53% mobile user meninggalkan halaman yang load lebih dari 3 detik.
Metodologi Uji Cepat: Apple to Apple
Untuk menghindar bias, saya setup dua instance identik:
- WordPress 6.4 dengan tema NewsPaper by tagDiv
- 20 post dummy dengan 5 gambar optimasi WebP per post
- Lokasi uji: Jakarta (via WebPageTest) dan Singapore (Pingdom)
- Tools: GTmetrix Pro, WebPageTest (9 runs), Uptime Robot
- Metrik fokus: TTFB, FCP (First Contentful Paint), LCP, Fully Loaded Time
Kedua hosting paket mid-tier: Niagahoster Business Hosting dan Domainesia PowerPlus 3. Uji dilakukan selama 7 hari termasuk puncak traffic siang hari.
Niagahoster: Performa di Balik LiteSpeed Cache
Niagahoster bangun infrastrukturnya di atas LiteSpeed Web Server. Ini keunggulan krusial. LiteSpeed punya server-level cache yang jauh lebih efisien dari plugin WordPress semacam WP Rocket. Di paket Business, mereka sudah aktifkan LSCache dan QUIC.cloud CDN secara out-of-the-box.
Hasil Uji Nyata
Dari 27 runs, rata-rata TTFB Jakarta mencapai 168ms—angka yang sangat kompetitif untuk hosting shared. LCP stabil di 1.9 detik tanpa plugin optimasi tambahan. Saat saya simulasikan 50 user concurrent dengan Loader.io, response time naik secara linear tapi tidak spike tajam, puncak di 420ms.

Keunggulan lain: Object Cache Pro (Redis) gratis di paket Business ke atas. Untuk website berita yang query-intensive, ini potong waktu eksekusi database hingga 60%. Saya cek di Query Monitor, query yang tadinya 120ms turun jadi 45ms.
Catatan Kritis
Niagahoster data center utama di Sleman, Yogyakarta. Untuk pembaca di Indonesia bagian timur, latency bisa 30-40ms lebih tinggi dibanding Domainesia yang punya POP di Singapore. Mereka juga punya batasan I/O limit 4MB/s di tier ini—masih aman untuk news site dengan 50K visitor/hari, tapi waspada kalau ada video embed berat.
Domainesia: NGINX Custom & PowerPlus Edge
Domainesia ambil jalur beda. Mereka pakai NGINX dengan modifikasi “PowerPlus” yang katanya optimasi untuk CMS populer. Data center mereka di Jakarta dan Singapore, dengan Anycast DNS yang terintegrasi. Ini penting: Anycast bantu reduce latency untuk audience geografis tersebar.
Hasil Uji Nyata
TTFB dari Jakarta sedikit lebih cepat: 142ms rata-rata. LCP di 1.7 detik, 200ms lebih cepat dari Niagahoster. Beda signifikan muncul saat uji cache miss. Kalau konten belum di-cache, Domainesia lebih lambat—FCP bisa 1.2 detik vs 0.9 detik Niagahoster. Artinya, untuk breaking news yang baru publish dan belum ter-cache, Niagahoster sedikit lebih gesit.
Saat stress test 50 concurrent user, Domainesia menunjukkan graceful degradation lebih baik. Response time naik tapi tetap di bawah 380ms. Mereka punya dynamic rate limiting yang pintar: tidak blokir user tapi throttling secara adil.
Catatan Kritis
Domainesia tidak pakai LiteSpeed. Jadi Anda harus install plugin cache sendiri—mereka rekomendasikan WP Rocket atau WP Super Cache. Tapi konfigurasi default PowerPlus sudah cukup agresif: GZIP, Brotli, dan HTTP/3 aktif otomatis. Mereka juga kasih Imunify360 gratis, yang di Niagahoster hanya di tier tertinggi.
Peringatan: Jangan tertipu angka TTFB saja. Untuk website berita, cache invalidation policy dan CDN integration justru lebih krusial ketimbang perbedaan 20-30ms di TTFB.
Head-to-Head: Tabel Perbandingan Spesifik
| Metrik | Niagahoster Business | Domainesia PowerPlus 3 | Pemenang |
|---|---|---|---|
| TTFB (Jakarta) | 168ms | 142ms | Domainesia |
| LCP (Cached) | 1.9s | 1.7s | Domainesia |
| LCP (Cache Miss) | 2.4s | 2.8s | Niagahoster |
| 50 Concurrent Users | 420ms peak | 380ms peak | Domainesia |
| I/O Limit | 4 MB/s | 5 MB/s | Domainesia |
| CDN Included | QUIC.cloud (70 PoP) | Tidak ada | Niagahoster |
| Cache Engine | LiteSpeed (server-level) | NGINX (config custom) | Niagahoster |
| Object Cache | Redis (gratis) | Redis (bayar tambahan) | Niagahoster |
Skenario Nyata: Mana yang Dipilih?
1. Portal Berita Lokal Baru Startup (5K-20K visitor/hari)
Pilih Niagahoster Business. Alasan: Setup paling cepat. LiteSpeed Cache + Redis gratis jadi Anda nggak perlu mikir optimasi keras. Bandwidth unlimited dan CDN bawaan cukup tangguh untuk fase growth. Harga lebih ramah budget (Rp 150rb/bln vs Rp 180rb/bln).
2. Regional Media dengan Traffic Fluktuatif (50K-150K visitor/hari)
Domainesia PowerPlus 3 lebih unggul. Anycast DNS dan I/O limit lebih tinggi penting saat ada breaking news. Kalau tim Anda punya dev handal, NGINX custom memberi fleksibilitas tuning lebih dalam. Plus, Imunify360 berguna melindungi dari bot scraper yang suka nge-hit RSS feed berita.
3. National News Site dengan Tim Teknis Solid
Pertimbangkan Niagahoster Cloud Hosting (bukan shared). Tapi kalau budget terbatas di shared tier, Domainesia lebih scalable. Mereka punya jalur upgrade jelas ke VPS dengan minimal downtime. Niagahoster migrasi ke cloud butuh effort lebih besar.
Biaya Tersembunyi yang Jarang Dibahas
Niagahoster murah di depan, tapi kalau butuh tambahan IP dedicated untuk SSL wildcard, bayar Rp 300rb/tahun. Domainesia SSL gratis cuma 1 domain, wildcard perlu upgrade ke PositiveSSL (Rp 450rb/tahun).
Bandwidth? Niagahoster “unlimited” tapi ada fair usage di 200GB/bln. Domainesia jujur beri batas 100GB tapi kalau lewat, downgrade speed bukan suspend. Untuk news site dengan banyak gambar, ini perlu dihitung.
Verdict: Tidak Ada Pemenang Mutlak
Pilihan tergantung posisi tim Anda di kurva ini:
Niagahoster menang kalau Anda mau plug-and-play tercepat. LiteSpeed Cache adalah game changer yang tidak perlu setup rumit. Cocok untuk editor yang fokus konten, bukan teknis.
Domainesia menang kalau Anda punya dev yang bisa optimasi manual dan butuh infrastruktur yang lebih “jujur” dalam batasan resource. Performa di puncak traffic lebih stabil.
Intinya: Untuk website berita, kecepatan cache miss lebih penting daripada cache hit. Breaking news tidak bisa menunggu cache warm-up. Niagahoster unggul di sini meski TTFB sedikit lebih lambat.
Checklist Keputusan Akhir
Sebelum klik checkout, tanyakan ini:
- Apakah tim bisa konfigurasi cache plugin manual? Kalau tidak, Niagahoster.
- Seberapa sering publish breaking news? Kalau sering, prioritas ke cache miss performance (Niagahoster).
- Audience di luar Jawa? Domainesia dengan POP Singapore lebih baik.
- Budget strict di bawah Rp 200rb/bln? Niagahoster.
- Butuh I/O tinggi untuk video embed? Domainesia.

Kecepatan hosting hanyalah 30% dari persamaan. 70% lainnya: optimasi tema, CDN, dan image compression. Tapi memilih fondasi yang tepat menghemat ratusan jam debugging di masa depan. Pilih sesuai DNA tim, bukan hanya angka benchmark.




