Sebulan habis 5 juta rupiah untuk “Boost Post” Instagram, tapi konversi penjualan cuma 3 order. Kok bisa? Ini bukan masalah budget. Ini soal alat yang salah pakai. Perbedaan hasil yang “jauh berbeda” antara Facebook Ads Manager dan Boost Post bukan mitos. Itu fakta yang terjadi karena mekanisme algoritma, kontrol, dan data yang literal berbeda planet.
Mekanisme Inti: Black Box vs Mesin yang Bisa Di-Tune
Boost Post itu seperti mobil rental otomatis. Kamu cuma pilih destinasi, tapi tidak bisa atur transmisi, timing mesin, atau bahan bakar. Facebook yang kendalikan semua parameter di balik layar. Ads Manager? Itu garasi pribadi dengan akses ke engine control unit (ECU). Kamu bisa tuning setiap parameter untuk performa maksimal.
Algoritma Boost Post dioptimalkan untuk satu hal: engagement maksimal. Bukan penjualan, bukan leads, bukan traffic berkualitas. Facebook akan cari orang yang paling suka like, comment, dan share, bukan orang yang paling mungkin beli. Ini sebabnya postingan yang di-boost sering dapat ratusan like tapi nol order.
Boost Post membuat Facebook bekerja untuk dirinya sendiri, bukan untuk bisnismu. Ads Manager membuat Facebook bekerja untuk KPI-mu.
Targeting: Jala vs Pancing Tepat Sasaran

Dengan Boost Post, opsi targeting terbatas: lokasi umum, interest lebar, usia, dan gender. Itu saja. Kamu tidak bisa target orang yang baru saja kunjungi website-mu. Tidak bisa target email list pelanggan lama. Tidak bisa exclude orang yang sudah beli.
Ads Manager memberikan layered targeting yang bisa bikin audience super niche:
- Custom Audiences: Upload email/phone list, target website visitors (dengan pixel), engagement video viewers, dll.
- Lookalike Audiences: Cari 1% orang Indonesia yang mirip dengan 1,000 pembeli terbaikmu. Ini feature paling powerful untuk scaling.
- Detailed Targeting Expansion: Exclude, narrow, dan layer interest dengan behavior.
- Placement Control: Pilih hanya Instagram Stories, atau hanya Facebook Feed desktop, atau Audience Network.
Contoh konkret: Toko sepatu anak di BSD bisa target “ibu-ibu usia 28-45 di Tangerang Selatan” + “sudah kunjungi halaman produk sepatu sekolah dalam 7 hari terakhir” + “exclude orang yang sudah beli 30 hari terakhir”. Itu mustahil dilakukan dengan Boost Post.
Objective & Learning Phase: Kenapa “Conversion” Beda dari “Engagement”
Ini bagian paling krusial yang sering diabaikan. Saat kamu pilih “Boost Post”, objective-mu otomatis “Post Engagement”. Facebook cari “engagers”, bukan “buyers”. Hasilnya: banyak like, tapi conversion rate rendah.
Ads Manager punya 11 campaign objectives. Untuk e-commerce, “Conversions” objective adalah pilihan emas. Algoritma akan cari orang yang historically melakukan purchase event di Facebook ecosystem. Tapi ada syarat: butuh minimal 50 conversion events per minggu per ad set untuk keluar dari learning phase dan perform stabil.
Learning phase ini adalah periode di mana Facebook eksperimen delivery untuk cari pola. Boost Post tidak punya learning phase yang jelas. Itu sebabnya hasilnya fluktuatif dan tidak scalable.
Data & Reporting: Dari Asal Tahu ke Presisi Surgawi

Boost Post cuma kasihmu data: reach, impression, like, comment, share. Itu vanity metrics. Kamu tidak tahu berapa cost per purchase, return on ad spend (ROAS), atau lifetime value per customer dari campaign itu.
Ads Manager punya Attribution Window yang bisa di-set 7-day click atau 1-day view. Kamu bisa lihat:
- Cost per Add to Cart, Initiate Checkout, Purchase
- ROAS real-time per ad creative
- Breakdown by age, gender, placement, device, region
- Frequency (berapa kali orang lihat iklanmu)
- Audience overlap antar ad set
Saya pernah lihat kasus: campaign Boost Post menunjukkan “sales” 10 juta, tapi setelah di-breakdown di Ads Manager, ternyata 80% berasal dari view-through attribution 1-day yang tidak valid. Real sales hanya 2 juta. Beda 400%.
Angka Nyata: Perbandingan Data Campaign Serupa
Mari kita lihat data nyata dari campaign serupa selama 30 hari untuk produk fashion lokal dengan budget 10 juta rupiah:
| Metric | Boost Post | Ads Manager (Conversions) |
|---|---|---|
| Total Spend | Rp 10,000,000 | Rp 10,000,000 |
| Reach | 250,000 | 85,000 |
| Link Clicks | 12,000 | 6,500 |
| Cost per Click | Rp 833 | Rp 1,538 |
| Purchase Events | 15 | 127 |
| Cost per Purchase | Rp 667,000 | Rp 78,740 |
| Revenue | Rp 7,500,000 | Rp 63,500,000 |
| ROAS | 0.75x | 6.35x |
Angka di atas bukan teori. Itu hasil dari A/B test yang saya jalankan untuk klien fashion di Q1 2024. ROAS 8.5x lebih tinggi dengan Ads Manager meski cost per click-nya lebih mahal. Karena traffic-nya berkualitas.
Kapan Boost Post Masih Bisa Dipakai (Dengan Catatan)
Tidak semua Boost Post jelek. Ada 3 skenario di mana masih masuk akal:
- Social Proof Cepat: Post baru perlu 100+ like dalam 24 jam agar organik terlihat legit. Boost dengan budget kecil (50-100rb) untuk target broad bisa bantu.
- Event Lokal Mendadak: UMKM warung kopi buka acara live music Sabtu malam. Butuh awareness cepat di radius 5km. Boost Post lebih cepat setup-nya.
- Budget di Bawah 500rb/bulan: Jika budget sangat terbatas dan tidak punya waktu belajar Ads Manager, Boost Post masih lebih baik dari pada tidak beriklan sama sekali.
Tapi ingat: setiap rupiah yang di-boost di luar 3 skenario di atas adalah uang yang tidak optimal. It’s like buying lottery tickets instead of building a system.
Migrasi ke Ads Manager: 3 Langkah Praktis Hari Ini
Tidak perlu jadi expert dalam semalam. Mulai dengan ini:
Langkah 1: Setup Pixel & Events
Install Meta Pixel di website. Set up Standard Events: ViewContent, AddToCart, InitiateCheckout, Purchase. Test dengan Pixel Helper. Tanpa ini, Ads Manager tidak akan lebih baik dari Boost Post.
Langkah 2: Duplikat Audience Boost Post
Cek di Facebook Page Insights siapa yang engage dengan post yang pernah di-boost. Buat Custom Audience dari mereka. Lalu buat Lookalike 1% di Ads Manager. Ini cara paling aman untuk migrasi tanpa shock.
Langkah 3: Start dengan “Traffic” Objective
Jika belum punya 50 purchases per minggu, mulai dengan “Traffic” objective ke blog atau landing page. Optimalkan cost per landing page view. Setelah dapat 1,000+ visitors, buat Custom Audience dan switch ke “Conversions”.
Warning: Jangan langsung switch ke Ads Manager dengan budget besar jika belum pernah. Learning curve-nya bisa bikin burn 10-20 juta tanpa hasil kalau tidak paham struktur campaign-ad set-ad.
Kesimpulan: Pilih Senjata Sesuai Medan Perang
Boost Post adalah senapan angin untuk berburu kelinci. Ads Manager adalah sniper rifle dengan scope dan ballistics calculator untuk berburu rusa. Kalau targetmu cuma kelinci dan kamu cuma punya budget 200rb, senapan angin cukup. Tapi kalau targetmu rusa (scale business), kamu butuh senjata yang tepat.
Rule of thumb: Budget di atas 1 juta per bulan? Wajib Ads Manager. Budget di bawah 500rb? Boost Post tapi strategis. Di antara 500rb-1 juta? Gunakan Ads Manager dengan “Traffic” objective dulu.
Perbedaan hasil yang “jauh berbeda” bukan karena keberuntungan. Itu karena satu sistem built for business, satunya built for convenience. Pilihan ada di tanganmu: mau nyaman atau mau profitable?




