Marketer yang suka lupa itu bukan cuma soal ingatan. Bukan. Ini soal volume. Ide campaign, insight meeting, research competitor, screenshot ad yang bagus, data brief dari client—semua datang dalam rentang waktu 15 menit. Lalu lenyap dalam 30 menit kalau nggak ditangkap dengan sistem yang tepat. Notion dan Obsidian janji bisa jadi “second brain”, tapi kenyataannya? Satu bikin kamu sibuk ngerapikan, satunya bikin kamu sibuk mikir struktur.

Core Philosophy: Database vs Knowledge Graph
Notion dibangun di atas filosofi database-driven workspace. Semua note adalah entri dalam database yang bisa di-query, di-filter, dan di-view dalam berbagai format: table, board, calendar, gallery. Ini database yang dilabeli “catatan”.
Obsidian dibangun di atas filosofi plain text knowledge graph. Semua note adalah file Markdown di folder lokal kamu. Hubungannya satu sama lain via backlink. Tidak ada database, tidak ada struktur paksa. Hanya kamu, teks, dan koneksi antar-ide.
Bedanya fundamental: Notion menangkap data, Obsidian menangkap hubungan. Marketer butuh keduanya, tapi tidak dalam dosis yang sama.
Capture Speed: Saat Ide Datang di Tol Cikampek
Bayar tol sambil dengar podcast, tiba-tiba dapet insight soal pain point audience. Buka app, ketik, save. Itu idealnya 8 detik.
Notion: Buka app → wait for sync → pilih workspace → pilih database → new page → ketik → save. Real timing di iPhone 13: 11-15 detik. Kalau connection lemot, bisa 20+ detik. Frustrasi.
Obsidian: Buka app (instant) → tap “New note” → ketik → otomatis save. Real timing: 3-5 detik. Karena file lokal, nggak perlu nunggu sync. Tapi ada trade-off: kamu harus punya struktur folder yang jelas atau bakal chaos.

Organisasi Konten: Campaign Calendar vs Swipe File
Kalau Kamu Butuh Content Calendar Visual
Notion menang di sini. Buat database “Content Calendar”, tambah properties: Publish Date (date), Status (select), Platform (multi-select), Assignee (person), URL (url). View-nya ganti ke Calendar, kamu langsung lihat jadwal postingan 30 hari ke depan. Drag and drop untuk reschedule. Ini visual project management yang bikin client senang lihatnya.
Obsidian bisa pakai plugin Full Calendar, tapi itu kalender biasa. Tidak ada custom field, tidak ada filter kompleks. Harus pakai tag manual seperti #publish/2024-01-15 dan query via Dataview—yang butuh belajar sintaks.
Kalau Kamu Butuh Swipe File untuk Ad Copy
Obsidian juaranya. Screenshot ad Facebook, save as ad-copy-competitor-x-2024.md, tulis analisis di bawahnya, tag [[pain-point-fear]] dan [[cta-scarcity]]. Nanti kamu bisa buka tag tersebut dan lihat semua ad copy dengan pola CTA yang sama. Ini pattern recognition tool bukan sekadar penyimpanan.
Notion bisa, tapi harus upload image ke block, buat property untuk tagging, dan nggak ada backlink otomatis. Kamu harus buat relation manual antar database “Ad Copy” dan “Copy Pattern”. Lama.
Integrasi dengan Tools Marketing
Notion punya API resmi. Artinya kamu bisa:
- Integrasi Slack: setiap ada comment di page Notion, masuk channel #content-review
- Automasi via Zapier: setiap row baru di database “Campaign Ideas”, otomatis buat task di Asana
- Embed Figma, Miro, Google Sheets langsung di page
Obsidian? Hampir nol integrasi native. Semua plugin community-driven. Ada plugin buat baca API, tapi kamu harus coding sendiri atau nunggu developer buatkan. Untuk marketer non-technical, ini deal breaker.
Realita: 73% marketer saya survei pakai minimal 5 tools sehari (Slack, GA4, Meta Ads, Canva, Sheets). Notion jadi central command center. Obsidian jadi isolated bunker.
Mobile Experience: Saat Client Telepon Minta Data Cepat
Client telpon, “Budget spent campaign Q3 berapa ya?” Kamu di taxi, buka app cari data.
Notion mobile app: Lambat. Sync-nya berat. Tapi kalau sudah load, search-nya powerful. Bisa filter “Campaign Q3” + “Budget” dalam 5 detik. Tapi sering crash di Android dengan workspace besar (>1000 pages).
Obsidian mobile app: Cepat banget. Search file lokal instan. Tapi kamu harus ingat nama file atau tag yang tepat. Tidak ada search filter visual. Kalau kamu punya 500 notes tanpa naming convention yang konsisten, kamu akan scroll manual.
Learning Curve: Berapa Jam yang Harus Dikorbankan?
Notion: Butuh 2-3 jam untuk paham block system, database view, dan relation. Setelah itu, kamu bisa productive. Tapi untuk bikin template keren seperti yang di Twitter, butuh 10+ jam. Banyak marketer terjebak ngerapikan template alih-alih eksekusi.
Obsidian: Butuh 30 menit untuk paham Markdown dan backlink. Tapi butuh 20+ jam untuk paham plugin ecosystem (Dataview, Templater, Canvas) dan build sistem yang benar-benar powerful. Obsidian terasa sederhana tapi sebenarnya dalam—bikin banyak marketer frustasi karena “kok rasanya kurang” padahal belum explore.
| Aspek | Notion | Obsidian |
|---|---|---|
| Capture Speed | 11-15 detik (tergantung sync) | 3-5 detik (instant local) |
| Organisasi Visual | ⭐⭐⭐⭐⭐ (database + view) | ⭐⭐⭐ (graph view, butuh setup) |
| Integrasi Tools | ⭐⭐⭐⭐⭐ (API + Zapier) | ⭐⭐ (plugin community) |
| Mobile Performance | ⭐⭐⭐ (lambat, sync berat) | ⭐⭐⭐⭐⭐ (cepat, lokal) |
| Collaboration | ⭐⭐⭐⭐⭐ (real-time, comment) | ⭐ (hanya via sync service) |
| Biaya (per user/bulan) | $8 (Plus), $15 (Business) | Gratis (local), $8 (Sync) |
Use Case Spesifik: Kapan Pakai Mana?
Pilih Notion Jika:
- Kamu bekerja dengan tim >3 orang dan butuh single source of truth
- Client atau atasan minta report visual yang bisa di-share via link
- Kamu butuh template campaign yang bisa di-duplicate tiap bulan
- Budget perusahaan sudah include (bukan keluar kocek pribadi)
- Kamu lebih sering capture data terstruktur (metrics, budget, timeline)
Pilih Obsidian Jika:
- Kamu solo marketer atau freelancer yang butuh second brain pribadi
- Kecewa dengan tools yang “terlalu banyak fitur” tapi bikin lambat
- Butuh swipe file untuk pattern recognition (ad copy, landing page, etc)
- Biasa nulis di desktop dan butuh sync minimal (bisa pakai iCloud/OneDrive gratis)
- Kamu tipe yang suka eksperimen dan nggak takut setup manual
Hybrid Model: The Real Answer for Most Marketers
80% marketer yang saya konsultasi akhirnya pakai dua-duanya—tapi untuk fungsi berbeda.
Notion = Client-Facing Workspace
Semua yang akan dilihat client: content calendar, campaign report, brief, approval tracker. Notion jadi showroom yang rapi dan profesional.
Obsidian = Private Thinking Space
Semua yang internal: swipe file, ide gila, analisis competitor, catatan learning. Obsidian jadi laboratorium yang messy tapi kaya insight.
Sinkronisasi manual: setiap minggu, pindahkan insight terbaik dari Obsidian ke Notion kalau perlu dibahas tim. Ini tambahan 15 menit kerja, tapi hemat 5 jam perdebatan “kok workspace kita berantakan?”
Warning: Jangan coba sync otomatis Notion-Obsidian via API. Percayalah, kamu akan menghabiskan 10 jam setup untuk sistem yang tetap berantakan. Manual curation itu feature, not bug.
Final Verdict: Berdasarkan Tipe Marketer
Notion = Porsche Cayenne: Mahal, lambat di jalan macet, tapi nyaman, stylish, dan diakui klien. Cocok untuk agency marketer atau marketing manager yang punya tim.
Obsidian = Subaru WRX: Murah, cepat, tapi interiornya keras dan butuh skill nyetir. Cocok untuk performance marketer atau content creator yang kerja solo dan butuh speed.
Kalau kamu masih bingung, coba ini: install Obsidian (gratis), pakai 7 hari untuk swipe file. Kalau kamu merasa “kok kurang”, kemungkinan kamu butuh Notion. Kalau kamu merasa “ini yang aku cari”, selamat, kamu hemat $96/tahun dan punya system yang lebih cepat.
Yang penting: jangan jadi marketer yang sibuk ngerapikan tools tapi lupa nge-run ads. Tools harus jadi extension of your brain, bukan replacement. Kalau setelah 30 hari kamu masih lebih sering buka app daripada eksekusi, buang tools itu. Kertas dan pulpen masih jadi MVP.




