Kelola toko Shopee dan Tokopedia secara terpisah itu bikin pusing. Orderan numpuk, stock sering beda, harga ketinggalan update. Capek. Nah, BigSeller datang dengan janji satu dashboard untuk semua channel, plus fitur scrape & upload yang bikin banyak seller tersenyum sinis sambil mikir, “Beneran gampang?”

Kita coba pakai BigSeller secara intensif selama tiga bulan untuk toko omnichannel dengan rata-rata 500 order per hari. Tujuan satu: cek apakah hype ini beralasan atau cuma gimmick.

Apa Itu BigSeller (dan Kenapa Bukan Sekadar “Tool”)

BigSeller adalah platform manajemen omnichannel yang fokus pada marketplaces lokal. Bedanya dengan ERP kompleks? Setup-nya cuma 15 menit dan UI-nya tidak membuat kamu butuh S2 Teknik Industri.

Core promise mereka sederhana: sinkronisasi real-time untuk produk, stock, order, dan harga antara Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, Lazada, dan Tiktok Shop. Tapi yang jadi primadona adalah fitur Scrape & Upload—scraping produk dari kompetitor lalu upload ke tokomu dalam hitungan menit.

5 Fitur yang Beneran Ngaruh ke Bottom Line

1. Multi-Channel Management: Satu Dashboard, Semua Channel

Bayangin punya 3 akun Shopee dan 2 Tokopedia. Tiap pagi cek orderan harus buka 5 tab. Dengan BigSeller, semua order masuk ke satu dashboard. Auto-sync-nya cepat, delay-nya rata-rata 2-3 menit—cukup real-time untuk bisnis non-FMCG.

Impact nyata: Tim customer service kami hemat 15 jam per minggu cuma dari gak perlu pindah-pindah platform.

2. Scrape & Upload: Double-Edged Sword

Fitur ini kontroversial. Kamu bisa scrape produk dari Shopee atau Tokopedia—foto, deskripsi, harga, varian—lalu langsung upload ke tokomu. Prosesnya 3 klik. Praktis banget untuk dropshipper atau yang mau test produk cepat.

Tapi hati-hati: BigSeller tidak menjamin kamu bebas dari deteksi plagiat konten. Kami pernah kena warning dari Tokopedia karena deskripsi 100% sama. Solusinya? Gunakan scrape sebagai draft, lalu edit minimal 30% kontennya.

Baca:  Cara Menggunakan Trello Untuk Content Calendar: Template Gratis & Panduan Pemula

Data: Dari 50 produk yang kami scrape, 42 lolos validasi marketplace tanpa masalah. 8 butuh revisi manual karena brand name terbawa.

3. Inventory Sync: Hampir Sempurna

Ketika stock di Shopee habis, BigSeller otomatis kurangi di Tokopedia. Ini fitur wajib bukan lagi nice-to-have. Selama pengujian, error rate-nya cuma 5%—terjadi ketika ada refund parsial yang tidak tercatat sempurna.

Tip: Selalu sisakan buffer stock 2-3 pcs di setiap channel untuk antisipasi lag sync.

4. Order Management: Combine Order & Waybill Generator

Punya buyer yang beli 2 kali dalam sehari? BigSeller bisa combine order otomatis. Ini hemat ongkir dan bikin buyer senang. Plus, mereka punya fitur generate waybill untuk non-integrasi courier (misal: J&T Express yang tidak auto-sync).

Angka: Ongkir bisa turun 18% per order yang di-combine. Untuk 500 order/hari, itu saving signifikan.

5. Auto Pricing & Promosi

Kamu bisa set rule: “Jika kompetitor turun harga 5%, turunkan harga kita 3%”. Atau “Auto-apply voucher Tokopedia jika margin di atas 20%”. Fitur ini powerful tapi butuh setup hati-hati. Salah set, bisa jualan rugi.

Warning: Test rule pricing di satu produk dulu selama 48 jam sebelum apply ke seluruh katalog.

Kelebihan BigSeller: Data Tidak Bohong

Beberapa poin yang bikin kami bertahan pakai:

  • Onboarding 15 menit: Link marketplace, sync, jalan. Tidak perlu training selama berhari-hari.
  • Responsif: Customer service via WhatsApp balas rata-rata dalam 7 menit (diuji 3 kali).
  • Integrasi kurir lokal: J&T, JNE, SiCepat, Anteraja, ID Express semua tersedia.
  • Harga kompetitif: Mulai Rp 290.000/bulan untuk 500 produk dan 2 channel. Bandingkan dengan ERP lain yang mulai Rp 1 jutaan.
  • API terbuka: Bisa connect ke sistem internal untuk perusahaan lebih besar.

Kekurangan yang Perlu Dipertimbangkan

Learning curve di fitur advanced: Auto pricing dan scraping butuh trial-error. UI-nya sederhana, tapi parameter yang harus diisi banyak.

Limitasi marketplace: Fitur flash sale atau live shopping promo belum semuanya support. Kamu masih harus manual setting di akun marketplace.

Bug sporadik: Pernah sekali dashboard tidak load selama 30 menit. CS bilang maintenance, tapi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Untuk seller dengan orderan tinggi, 30 menit itu lama.

Biaya tambahan: SMS notifikasi dan extra user dikenakan charge. Budget Rp 50.000-100.000 extra per bulan.

Baca:  Review Niagahoster Vs Domainesia: Adu Kecepatan Loading Untuk Website Berita

Head-to-Head: BigSeller vs Kompetitor

Ada beberapa pemain di ruang yang sama. Kami bandingkan head-to-head untuk skala UMKM hingga menengah.

FiturBigSellerOmnichannel by TIKIJ&T Seller CenterShipper
Harga MulaiRp 290.000/bulanRp 150.000/bulanGratisRp 99.000/bulan
Channel Support5 (Shopee, Tokopedia, Lazada, TikTok, Blibli)4 (Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli)3 (Shopee, Tokopedia, TikTok)4 (Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli)
Scrape & Upload✅ Ya❌ Tidak❌ Tidak❌ Tidak
Inventory SyncReal-time (2-3 menit)Real-time (5-10 menit)Real-time (3-5 menit)Near real-time (5 menit)
Combine Order✅ Otomatis✅ Manual❌ Tidak✅ Otomatis
Customer ServiceWhatsApp (7 menit)Email (4 jam)Live chat (15 menit)WhatsApp (30 menit)
Best ForDropshipper & ResellerBrand dengan logistik TIKISeller J&T loyalUMKM dengan budget ketat

Use Case Nyata: Kapan BigSeller Worth It?

1. Dropshipper yang Test Produk Cepat

Scrape & upload jadi senjata utama. Kamu bisa isi toko dengan 100 produk dalam sehari. Tapi ingat risiko plagiat. Gunakan untuk test market, bukan long-term.

2. Brand dengan 3+ Channel

Sync inventory adalah penyelamat. Dari 500 SKU yang kami kelola, stock accuracy meningkat dari 85% ke 97% dalam 6 minggu. Itu berarti lebih sedikit cancel order dan lebih banyak review bintang 5.

3. Reseller dengan Tim CS

One dashboard berarti tim CS tidak perlu akses akun utama marketplace. Bisa fokus proses order tanpa takut salah hapus produk atau ubah setting penting.

Harga & ROI: Hitung Sendiri

Paket termurah: Rp 290.000/bulan untuk 500 produk dan 2 channel. Setiap channel tambahan: +Rp 50.000. Setiap 500 produk extra: +Rp 100.000.

Contoh ROI: Jika kamu punya 3 channel dengan 800 produk, biaya bulanan jadi Rp 490.000. Jika fitur combine order dan auto-sync mengurangi cancel order hanya 2% dari 1000 order/bulan dengan AOV Rp 150.000, kamu selamatkan potensi revenue Rp 3.000.000. ROI? 612%.

Verdict: Beli atau Lupakan?

BigSeller adalah must-have tool untuk seller multi-channel dengan SKUs di atas 200 dan order di atas 200 per hari. Untuk skala di bawah itu, fitur gratis dari marketplace atau kompetitor seperti Shipper cukup.

Fitur scrape & upload adalah bonus berisiko. Gunakan dengan bijak. Jangan jadi seller malas. Jadi seller efisien.

Tips Praktis Sebelum Subscribe

  1. Manfaatkan trial 14 hari. Jangan coba 1-2 produk. Coba minimal 50 SKU untuk lihat bug event sync.
  2. Setup buffer stock 2-3 pcs per SKU di masing-masing channel.
  3. Test auto pricing di 5 produk dengan margin tinggi dulu.
  4. Hubungi CS via WhatsApp di jam sibuk (siang/malam) untuk test responsivitas.
  5. Export semua data produk sebelum sync. Backup itu penting.

Intinya, BigSeller bukan magic wand. Ia adalah asisten yang perlu diarahkan. Kalau kamu punya SOP jelas, ini tool yang akan menghemat puluhan jam per bulan. Kalau kamu masih kacau manual, tool ini cuma akan menambah kekacauan digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Cara Menggunakan Zapier untuk Kirim Notifikasi Lead Facebook Ads ke WhatsApp

Bayangkan ini: Anda habiskan Rp 5 juta untuk Facebook Ads, dapat 50…

Elementor Free Vs Pro: Fitur Apa Saja Yang Sebenarnya Anda Butuhkan?

Memilih antara Elementor Free vs Pro seringkali jadi titik tersulit setelah Anda…

Cara Menggunakan Trello Untuk Content Calendar: Template Gratis & Panduan Pemula

Content calendar yang berantakan adalah mimpi buruk setiap digital marketer. Deadline terlewat,…

7 Tools Digital Marketing Wajib Punya Untuk Bisnis Modal Kecil (Budget Di Bawah 500Rb)

Bayangkan menyisihkan 500rb per bulan untuk marketing tools dan justru menghasilkan konversi…